Sinyal CDMA Indonesia Ganggu GSM Singapura-Malaysia

Bookmark and Share
Indonesia ditegur Singapura dan Malaysia. Penyebabnya, sinyal telepon nirkabel berbasis teknologi CDMA milik operator dari Indonesia telah mengganggu layanan seluler berbasis GSM di kedua negara tetangga kita itu."Ada sedikit komplain dari negara tetangga karena di perbatasan ada interferensi," tutur Heru Sutadi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Interferensi sinyal antara layanan CDMA Indonesia dan layanan GSM kedua negara itu bisa terjadi karena frekuensinya ternyata sama-sama berdekatan di rentang pita 800 MHz. "Antara CDMA 850 MHz dengan GSM mereka kan berdekatan. Tapi, GSM-nya ketiban CDMA, sehingga kualitas GSM mereka jelek," jelas Heru.

Adapun sinyal dari operator CDMA Indonesia yang dinilai telah mengganggu layanan GSM kedua negara itu adalah Indosat (StarOne) dan Mobile-8 Telecom (Fren dan Hepi). Keduanya menggunakan frekuensi CDMA 850 MHz Band-B. Heru tak mau menyebutkan operator seluler GSM mana di kedua negara itu yang layanan selulernya terganggu. "Urusannya bukan operator to operator tapi G to G (government to government)."

Pun, ia mengakui, bukan kali ini saja Indonesia dikirimi surat keluhan. "‎​Sudah lama, tapi belum ada penyelesaian karena kita tetap pakai 850 MHz untuk CDMA.""Yang mungkin dilakukan adalah shifting kanal, pengurangan power output BTS (base transceiver station)," jelas Heru coba mencari solusi.

Sementara dari sisi operator, Indosat dan Mobile-8 mengakui layanan CDMA miliknya telah mengganggu layanan GSM milik kedua negara jiran tersebut di area perbatasan. "Untuk daerah perbatasan Indonesia-Singapura-Malaysia, interferensi terjadi karena filter tidak ada di dua sisi," ujar Chief Marketing Officer Indosat, Guntur Siboro.

Secara teknologi, menurut dia, sinyal CDMA masih tetap lebih kencang walaupun sudah dipasang guardband dan filter. CDMA dianggap selalu lebih kuat pancarannya karena teknologinya juga disebut power spectral density technology, dimana power akan membesar kalau trafik menurun."Kita sudah usahakan pasang filter. Masalahnya di kedua negara itu tidak dipasangi filter, jadi mereka yang sengsara," kata Guntur.

Sementara menurut Merza Fachys, Direktur Utama Mobile-8, yang dikomplain oleh kedua negara itu bukan dari pihak operator, tapi pemerintah melalui Ditjen Postel Depkominfo. "Karena ini G to G. Masalahnya bukan siapa dengan siapa, tapi dua pemerintah bertetangga memberikan lisensi di frekuensi band yang sama untuk teknologi berbeda. Indonesia untuk CDMA, sementara mereka untuk GSM. Akibatnya tabrakan," jelas Merza.

Meski interferensi sinyal hanya terjadi antara CDMA Indonesia dan seluler GSM di Singapura dan Malaysia, namun, sinyal telepon milik operator GSM Indonesia juga masih bisa diterima di kedua negara itu. "Karena daerah perbatasan, bahkan sinyal GSM Indonesia bisa sampai Singapura, begitu juga sebaliknya," kata Guntur.

"Yang pernah saya dengar sinyal StarOne bisa diterima sampai di Orchard Road (Singapura). Mungkin ini pas trafik rendah maka power-nya bisa menjangkau lebih jauh," kata dia. "Sementara kalau GSM, saya pernah dapat sinyal Indosat di Singapore Ferry Terminal. Sama juga kalau lagi di Batam bisa tiba-tiba roaming ke Starhub, Singtel, atau M1. Jadi hati-hati menelpon pas lagi di Batam, bisa-bisa kena roaming internasional," tandas Guntur.

http://dede-net.blogspot.com

Title Post: Sinyal CDMA Indonesia Ganggu GSM Singapura-Malaysia
Rating: 100% based on 9999989 ratings. 98 user reviews.
Author: Dede Purnama

Terimakasih sudah berkunjung di blog ini, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...