Pemanasan Intel untuk Masa Depan

Bookmark and Share

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com - Intel Developer Forum (IDF) jadi ajang tahunan Intel yang menampilkan teknologi terbaru dan yang akan datang dari produsen mikroprosesor tersebut. Namun sebelum agenda utama dimulai, ada sebuah acara bernama Day Zero.

Day Zero jadi tradisi baru Intel sejak 2011. Tradisi ini dimulai dengan acara bertema Green Computing, sebuah tema yang tidak bisa dibilang mengejutkan. Namun untuk 2012 ini, temanya ternyata cukup menarik dengan nuansa fiksi ilmiah.

Tema tersebut muncul dari buku Tomorrow Project Anthology, sebuah buku yang menampilkan kisah fiksi ilmiah dari beberapa penulis. Mulai dari analis teknologi Rob Enderle (Principal Analyst, Enderle Group), Kathleen Maher (VP dan Editor in Chief John Peddle Research) hingga penulis fiksi Madeline Ashby dan Karl Schroeder.

Para penulis buku itu hadir dalam sebuah diskusi panel yang mencoba menggali seperti apakah teknologi di masa depan, dan bagaimana hubungannya dengan manusia atau masyarakat.

Day Zero juga menampilkan pemutaran film dokumenter Vintage Tomorrows, sebuah film dokumenter yang diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis Brian David Johnson  dan James H Carrot.

Film itu menampilkan sub-kultur Steampunk, sebuah gerakan budaya yang cukup marak di Amerika Serikat serta beberapa negara lain. Steampunk menghadirkan gaya era Victoria (1800-an) namun dengan pendekatan imajinatif.

Namun, "bintang utama" dalam Day Zero adalah pameran teknologi dari Intel Labs yang menampilkan berbagai prototipe dan konsep teknologi yang dikembangkan laboratorium riset tersebut.

Salah satu konsep dijuluki "Display without Boundaries". Konsep ini menggunakan sebuah algoritma unik untuk mengubah permukaan apapun sebagai layar interaktif. Misalnya, sebuah mangkuk yang dalam demo itu digunakan untuk menampilkan foto.

Konsep lain adalah "Emotions through Images" yang berusaha menampilkan foto dengan tambahan informasi emosional (dalam demo ditunjukkan dengan warna kotak di sekeliling foto). Foto yang ditunjukkan di demo itu diambil secara real-time dari Instagram.

Ada juga konsep bernama "Interactive Shopping" yang menampilkan label digital pada rak toko atau supermarket. Kemampuan seperti konektivitas 3G untuk menampilkan data kontekstual, sensor gerak untuk interaksi pada label hingga near-field communication ditunjukkan dalam demo itu.

Beberapa konsep memiliki dasar yang sama, yaitu Contextual Awareness. Misalnya, sebuah konsep yang menunjukkan rekomendasi yang berbeda saat seseorang bepergian sendiri atau bersama teman-temannya. Dalam konsep berjudul "Socially Aware Activity" itu rekomendasi yang muncul
ternyata tidak sesederhana mencari irisan kesukaan antara individu dalam sebuah kelompok.

Perilaku kelompok, ujar peneliti Lama Nachman, ternyata bisa sangat berbeda. Bahkan, seorang individu akan memiliki kesukaan yang berbeda saat bepergian dengan kelompok yang berbeda-beda; contohnya saat pergi dengan teman kantor dan teman kampus.

Masih dari kelompok Contextual Awareness adalah konsep "Situational Sensitive Communication". Lewat berbagai sensor, seseorang bisa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menghubungi teman, keluarga atau koleganya. Dalam demo ditunjukkan bagaimana sebuah smartphone
bisa mendeteksi apakah orang yang akan dihubungi sedang berjalan, mengendarai mobil, bekerja atau mendengarkan musik.

Teknologi di masa depan, agaknya, masih punya banyak ruang untuk dijelajahi. Seperti kata Brian David Johnson dalam kata pengantar The Tomorrow Anthology: "Ada cara bagi kita untuk mengubah masa depan jadi lebih baik. Kita bisa mengubahnya dengan mengubah kisah tentang masa
depan (jadi sesuai dengan) yang kita inginkan."



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feeds | Amazon WordPress PluginHud 1 Settlement Statement

Title Post: Pemanasan Intel untuk Masa Depan
Rating: 100% based on 9999989 ratings. 98 user reviews.
Author: Dede Purnama

Terimakasih sudah berkunjung di blog ini, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...